Pentingnya Toleransi Antar-Umat Beragama

Agama, atau bisa disebut juga sebagai kepercayaan seseorang akan suatu hal yang umumnya dapat memberikan ketenangan, keamanan, dan kedamaian secara spiritual. Agama atau kepercayaan akan suatu hal muncul dikarenakan manusia ingin mencari suatu arti di dalam hidupnya, mencari suatu tempat naungan bagi kehiupan spiritual mereka. Agama atau kepercayaan ini juga muncul disebabkan manusia ingin mdengisi kekosongan di kehidupan mereka masing-masing. Menurut saya, manusia tidak akan pernah terlepas dari yang namanya agama atau kepercayaan sampai kapanpun selama manusia, kita, ada.

Di Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI yang tercinta ini, walaupun hanya 6 agama utama yang diakui oleh negara, seperti: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Buddha, Hindu, dan Kong Hu Chu, tetap ada agama atau kepercayaan lainnya yang berjumlah lebih dari 180 kepercayaan atau agama asli Indonesia, di antaranya : kepercayaan kejawen yang merupakan kepercayaan asli berasal dari adat suku Jawa, kepercayaan Sunda Wiwitan yang berasal dari adat suku bangsa Sunda, agama Hindu Bali (Hindu Tirtha) serta Hindu Jawa yang walaupun asal agamanya, Hindu Dharma berasal dari India, tetapi terdapat percampuran dengan kepercayaan dan upacara nenek moyang suku pribumi, dan banyak lagi kepercayaan lainnya yang mungkin memerlukan satu hari penuh, bahkan lebih, untuk dibahas. Di samping fakta bahwa terdapat berbagai macam agama dan kepercayaan di Indonesia, pemerintah Indonesia juga mewajibkan seluruh rakyatnya untuk memeluk suatu agama atau kepercayaan. Bukan tanpa suatu alasan, pemerintah Indonesia mewajibkan rakyatnya memeluk suatu agama atau kepercayaan karena dilandasi oleh ideologi Indonesia, yaitu ideologi pancasila, yang pada silanya yang pertama berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa,” menandakan bahwa Indonesia adalah negara yang beragama dan/atau bertuhan.

Adanya berbagai macam kepercayaan agama ini memiliki sejarah yang panjang, mulai yang tidak sengajar tersebar oleh para pedagang rempah dan barang-barang yang berlayar dan singgah di Indonesia, hingga orang-orang yang memang memiliki misi untuk menyebarkan agamanya ke penjuru dunia. Agama luar pertama yang masuk ke Indonesia adalah agama hindu yang dibawa oleh para kaum pedagang yang hanya singgah untuk berdagang hingga petinggi agama, yang disebut dengan Brahmana, yang memang memiliki misi untuk menyebarkan agamanya di Nusantara pada kala waktu itu. Tak lama setelahnya, agama Buddha pun masuk ke daerah Nusantara dan mulai menyebar melalui jalur perdagangan Nusantara. Keduanya menjadi agama pertama yang mulai tersebar di Nusantara, ditandai dengan umur kerajaan tertua diduduki oleh kerajaan bercorak agama Hindu dan Buddha, seperti Kutai, Sriwijaya, Syailendra, Majapahit, dan masih banyak lagi. Puncak kejayaan kerajaan hindu-jawa, yaitu kerajaan Majapahit yang dahulu kala memiliki wilayah lebih luas daripada wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, membawa Nusantara ke masa keemasan dalam sejarah Indonesia. Hinduisme memiliki pengaruh paham ideologi dalam pemerintahan yang hanya memilih satu orang sebagai seorang pemimpin yang disebut sebagai seorang “Raja.” Pada abad ke-13, agama islam mulai  masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan para pedagang yang berasal dari Gujarat, India. Walaupun demikian, para ilmuwan masih mempertahankan teori Arab dan Persia. Islam mulai menyebar di Indonesia pada pulau Sumatera di bagian pesisir pantai barat Sumatera. Dimulai dari periode ini, kerajaan-kerajaan bercorak islam mulai berdiri, seperti Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram, dan mulai masuk ke Jawa berdirilah Kerajaan Banten. Untuk agama kristen sendiri sebenarnya sudah masuk ke wilayah Nusantara dimulai pada abad ke-7. Akan tetapi, agama kristen mulai menyebar secara luas dan pesat pada abad ke-16 yang dibawa oleh bangsa Portugis, khususnya di Pulau Flores dan Pulau Timor untuk agama Kristen Katholik, dan bangsa Belanda, khususnya di Pulau Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan Kalimantan untuk agama Kristen Protestan.  Kristen Protestan dibawakan oleh bangsa Belanda dengan pengaruh pengajaran Calvinis dan Lutheran. Kemudian, kekristenan masih terus menyebar ke Borneo, kaum misionaris pun sampai pada Toraja, Sulawesi. Wilayah Sumatera juga menjadi target para misionaris untuk menyebarkan agama kristen pada waktu itu, khususnya daerah Batak yang bahkan sampai saat ini mayoritas memeluk agama kristen

Pada orde lama masa kepemimpinan Ir. Sukarno (tahun 1945 hingga tahun 1965), terjadi gangguan dalam kedamaian berbangsa, bernegara, dan beragama di Indonesia. Perubahan yang penting dan sangat signifikan terjadi pada sepanjang era “Orde Baru” ini. Di tahun 1964 sampai dengan 1965, terjadi ketegangan antara PKI atau Partai Komunis Indonesia dengan pemerintahan Indonesia pada kala itu. Bersamaan dengan organisasi-organisasi lainnya yang ikut serta terlibat dalam ketegangan di masa gelap bangsa Indonesia ini. Sampai sekarang ini, peristiwa G30S/PKI menjadi sebuah trauma besar bagi seluruh rakyat Indonesia karena terjadi pembantaian jenderal-jenderal dan para petinggi pemerintah Indonesia pada kala itu yang sangat menggoyahkan kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara rakyat Indonesia. Sesuai dengan namanya, PKI yang merupakan partai komunis, bergerak atas landasan ideologi komunis yang justru melarang pengikut ideologinya untuk memeluk suatu kepercayaan atau agama. Atas dasar peristiwa itu, pemerintah Orde Baru dengan sigap menindaklanjuti para pengikut atau anggota PKI, karena di Indonesia, seluruh rakyatnya diwajibkan untuk memeluk suatu agama, bukannya malah melarang dan tidak memeluk agama atau kepercayaan apapun, yang biasa kita sebut dengan “Atheis.” Diikuti dengan perisitiwa ini, pemerintah Indonesia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk mencantumkan agama atau kepercayaan pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) masing-masing. Hal ini menimbulkan pergerakan atau perubahan agama banyak orang secara massal, terutama bagi para penganut agama Kong Hu Chu pada saat itu yang belum diakui sebagai agama yang sah oleh pemerintah Indonesia.

Melalu sejarah Indonesia yang panjang tadi, sudah sepatutnya kita sebagai rakyat Indonesia, terutama yang lahir, besar, dan masih hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk memahami dan menghormati sesama rakyat Indonesia, terutama kepada orang yang berbeda agama atau kepercayaannya dengan kita. Tentunya kita sebagai rakyat Indonesia tidak ingin adanya perpecahan bagi bangsa kita Indonesia tercinta ini.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa isu yang selalu hangat di seluruh penjuru Indonesia adalah tentang agama, baik di sosial media maupun di dunia nyata. Tentunya dengan perbedaan ini, sudah seharusnya kita sebagi manusia untuk saling toleransi antar-umat beragama. Akan tetapi, sangat disayangkan sekali karena sudah banyak sekali paham yang justru dapat memecah toleransi antarumat beragama di Indonesia, seperti golongan ekstremis suatu agama, yang kurang memilik kesadaran toleransi antarumat beragama. Hal ini sebenarnya dapat kita tindaki dan tindakan yang paling tepat adalah dengan menggunakan tindakan preventif, yaitu pencegahan sebelum adanya paham yang kurang menganut adanya toleransi dan hormat kepada sesama umat beragama walaupun berbeda kepercayaannya. Salah satu tindakan preventif yang dapat dilakukan adalah dengan pengadaan pendidikan toleransi sejak dini, seperti pada anak-anak usia balita hingga yang remaja dewasa, yang justru paling rentan terpapar oleh paham yang tidak menerapkan toleransi.

Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu, itulah dasar falsafah Indonesia yang sudah sepatutnya kita anut dan kita terapkan di kehidupan sehari-hari kita. Seharusnya, perbedaan bukanlah suatu hal yang kita anggap sebagai suatu kekurangan, melainkan suatu kelebihan bahkan kekuatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sampai kancah internasional.

Sebagai mahasiswa, sudah sepatutnya kita paham akan hal dasar seperti ini. Tidak boleh ada lagi ada kata intoleransi mulai hari ini, besok, lusa, dan seterusnya sampai akhir hayat sejarah manusia berkepercayaan dan beragama. Marilah kita, terutama mahasiswa Universitas Brawijaya, hidup berdampingan dengan perbedaan ini, yaitu perbedaan dalam hal agama dan kepercayaan. Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

000 ------------------------------------------ ooo ------------------------------------------ 000

Nama : Hizkia Jeremmy Krisna Ananta

NIM : 225150200111050

Cluster : 23

Fakultas / Prodi : FILKOM / Teknik Informatika


Komentar